Berita Warung

Ketukan Pintu di Tengah Malam

October 11, 2026

Warga Kampung sudah beberapa hari ini dibuat tidak nyaman oleh cerita dari rumah kontrakan milik Pak Ramin.

Rumah itu sebenarnya biasa saja.

Terasnya sempit, cat dindingnya mulai kusam, dan pintu depannya sudah agak seret kalau dibuka. Yang tinggal di sana seorang duda bernama Pak Surya, 52 tahun, pekerja bengkel yang pulangnya sering malam.

Masalah mulai muncul sejak malam Selasa Kliwon.

Sekitar pukul setengah satu dini hari, Pak Surya terbangun karena mendengar suara ketukan dari pintu depan.

Tok.

Tok.

Tok.

“Siapa?” teriaknya.

Tidak ada jawaban.

Ia membuka sedikit tirai jendela.

Teras kosong.

Pak Surya kembali ke kamar.

Lima menit kemudian, suara itu terdengar lagi.

Tok.

Tok.

Tok.

Lalu terdengar suara perempuan.

Pelan.

“Pak… bukain…”

Pak Surya langsung duduk.

Ia tinggal sendirian.

Anaknya bekerja di luar kota. Tetangga kanan-kiri juga sudah tidur.

Belum sempat ia membuka pintu, suara perempuan itu kembali terdengar.

“Dingin, Pak…”

Pak Surya memilih mundur.

Paginya, di depan pintu ditemukan jejak telapak kaki perempuan.

Basah.

Jejak itu muncul dari arah pagar, lalu berhenti tepat di depan pintu.

Tidak ada jejak balik.

CERITA LAMA MULAI TERBONGKAR

Kabar itu akhirnya sampai ke telinga Pak Ramin, pemilik rumah.

Awalnya ia enggan bicara.

Namun setelah didesak warga, barulah keluar cerita lama yang selama ini jarang dibahas.

Sekitar tujuh tahun lalu, rumah itu pernah ditempati pasangan muda bernama Rudi dan Lilis.

Lilis dikenal pendiam, tetapi cantik dan ramah.

Masalahnya, rumah tangga mereka sering ribut.

Rudi disebut punya kebiasaan pulang malam dan kerap mabuk-mabukan. Uang belanja sering habis entah ke mana.

Suatu malam hujan deras, warga mendengar pertengkaran hebat dari dalam rumah.

Piring pecah.

Pintu dibanting.

Lalu sekitar pukul sebelas malam, Lilis keluar rumah sambil menangis.

Ia mengenakan daster tipis dan tidak membawa payung.

Seorang tetangga sempat melihatnya berjalan menuju jalan kecil di belakang kampung.

Sejak malam itu, Lilis tidak pernah pulang.

Tiga hari kemudian, tubuhnya ditemukan di saluran irigasi dekat kebun tebu, hampir dua kilometer dari rumah.

Polisi saat itu menduga Lilis terpeleset saat hujan dan hanyut.

Namun warga punya cerita lain.

Ada yang bilang sebelum ditemukan meninggal, Lilis sempat terlihat berdiri di pinggir jalan sambil mengetuk pintu beberapa rumah.

Seolah-olah sedang mencari tempat berlindung.

Yang membuat kisahnya makin menyeramkan, Rudi langsung meninggalkan kontrakan beberapa hari setelah pemakaman istrinya.

Rumah itu kemudian kosong hampir setahun.

KETUKANNYA MAKIN DEKAT

Sejak mengetahui cerita itu, Pak Surya mulai sulit tidur.

Apalagi ketukan malam semakin sering.

Selalu tiga kali.

Tok.

Tok.

Tok.

Kadang disusul suara perempuan menangis.

Kadang hanya terdengar napas berat dari balik pintu.

Pada Jumat dini hari, suara itu datang lebih keras dari biasanya.

Tok! Tok! Tok!

Lalu terdengar kalimat yang membuat Pak Surya membeku.

“Pak… saya pulang.”

Pak Surya mengaku malam itu ia tidak berani bergerak dari tempat tidur.

Tapi beberapa menit kemudian, suara langkah kaki justru terdengar dari ruang tamu.

Padahal pintu masih terkunci.

Pelan.

Krek.

Krek.

Krek.

Seperti orang berjalan dengan kaki basah.

Paginya, Pak Surya menemukan lantai ruang tamu penuh bekas tapak kaki menuju kamar belakang.

Jejak itu berhenti di depan lemari.

Sejak hari itu, ia memilih pindah sementara ke rumah adiknya.

Kontrakan Pak Ramin kembali kosong.

Namun warga ronda mengaku, kalau lewat depan rumah sekitar pukul satu malam, kadang masih terdengar ketukan.

Yang lebih bikin merinding, sekarang bukan lagi dari pintu depan.

Melainkan dari dalam rumah.

Tok.

Tok.

Tok.

Seolah ada seseorang yang sudah berhasil masuk.

Pesan warung: Kalau tengah malam ada perempuan bilang “saya pulang”, pastikan dulu memang ada penghuni perempuan di rumah. Kalau tidak ada… ya jangan sok ramah. Kadang sopan santun juga perlu lihat situasi.