Berita Warung
Suara Misterius Sumur Tua

Sudah hampir dua puluh tahun sumur tua di belakang rumah kosong milik almarhum Mbah Sastro tidak pernah dipakai.
Mulut sumur itu ditutup papan tebal. Di atasnya ditaruh batu besar supaya anak-anak kampung tidak main-main di sana.
Warga punya alasan sendiri.
Dulu, seorang perempuan bernama Sri Wahyuni ditemukan meninggal di dasar sumur itu.
Usianya baru 28 tahun.
Sri dikenal cantik, pendiam, dan jarang ikut campur urusan orang. Namun kehidupan rumah tangganya dengan Harun terkenal tidak harmonis. Tetangga sering mendengar suara pertengkaran dari rumah mereka.
Suatu malam, Sri hilang.
Dua hari kemudian tubuhnya ditemukan di sumur.
Waktu itu orang menganggap Sri terpeleset atau nekat mengakhiri hidup setelah bertengkar dengan suaminya.
Lama-lama cerita itu tenggelam.
Sampai Pak Yanto mendengar suara dari sumur.
Malam itu ia pulang ronda sekitar pukul satu lewat.
Saat melewati kebun belakang rumah Mbah Sastro, terdengar suara perempuan.
“Pak Yanto…”
Ia berhenti.
Awalnya dikira orang iseng.
Tapi suara itu datang lagi.
Lebih dekat.
“Tolong saya…”
Pak Yanto langsung lari sampai sandal sebelahnya copot.
Paginya, cerita itu jadi bahan warung.
Sebagian menertawakan.
Sebagian mulai mengingat nama Sri.
Yang membuat suasana berubah adalah kejadian malam berikutnya.
Kali ini suara dari sumur memanggil orang lain.
“Dimas…”
Dimas adalah anak Sri.
Ia baru pulang dari Kalimantan setelah ayahnya, Harun, meninggal setahun lalu.
Tujuannya sederhana. Menjual rumah peninggalan keluarga lalu kembali bekerja.
Dimas sendiri tidak percaya cerita hantu.
“Kalau benar ibu saya, kenapa dua puluh tahun baru muncul?” katanya.
Tapi rasa penasaran menang.
Malam berikutnya ia datang ke sumur bersama Pak Yanto.
Jam menunjukkan 01.17.
Mereka menunggu hampir setengah jam.
Sunyi.
Pak Yanto bahkan sudah mulai bilang, “Sudahlah, mungkin kemarin cuma suara kucing.”
Lalu dari dalam sumur terdengar lirih.
“Mas…”
Tubuh Dimas langsung kaku.
Ia kenal suara itu.
Suara ibunya.
Dimas mendekat.
“Bu?”
Beberapa detik kemudian terdengar tiga kata.
“Bawah pohon mangga.”
KOTAK BESI DI BAWAH TANAH
Paginya, mereka menggali tanah di bawah pohon mangga tua sekitar lima belas meter dari sumur.
Hampir satu jam tidak menemukan apa-apa.
Sampai cangkul Pak Yanto membentur benda keras.
Sebuah kotak besi kecil.
Sudah berkarat.
Di dalamnya ada foto lama, kain lusuh, beberapa surat, dan buku catatan milik Sri.
Dimas membaca halaman demi halaman.
Tulisan ibunya kebanyakan soal kehidupan rumah tangga.
Harun disebut sering marah karena uang.
Sering cemburu.
Bahkan pernah mengancam Sri.
Di halaman terakhir ada kalimat yang membuat Dimas terdiam lama.
“Kalau terjadi sesuatu padaku, aku tidak pergi sendiri.”
Kampung langsung geger.
Orang-orang mulai menyimpulkan Harun mungkin terlibat dalam kematian istrinya.
Masalahnya, Harun sudah meninggal.
Tidak ada lagi yang bisa ditanya.
Pak Yanto malah menjadi orang yang paling vokal.
“Dari dulu saya memang curiga sama Harun,” katanya di warung.
Beberapa warga mulai percaya.
Kasus yang hampir dua puluh tahun mati mendadak hidup lagi.
Tapi malam berikutnya, semuanya berubah.
“BUKAN BAPAKMU…”
Dimas kembali ke sumur seorang diri.
Ia masih merasa ada yang belum selesai.
“Bu,” katanya pelan.
“Kalau memang ibu di situ, kasih tahu saya siapa yang bikin semua ini.”
Awalnya tidak ada jawaban.
Lalu terdengar suara perempuan menangis.
Pelan.
Setelah itu suara Sri muncul.
“Bukan bapakmu…”
Dimas membeku.
“Terus siapa?”
Sunyi cukup lama.
Lalu terdengar satu nama.
“Yanto.”
Dimas mundur dua langkah.
Nama itu membuat kepalanya seperti dipukul.
Pak Yanto?
Orang yang pertama mendengar suara sumur.
Orang yang membantu menggali kotak.
Orang yang selama beberapa hari terakhir sibuk menyalahkan Harun.
Dimas langsung pergi ke rumah Pak Yanto.
Kosong.
Motornya tidak ada.
Istrinya bilang suaminya baru saja pergi dan tidak bilang mau ke mana.
Saat itulah Mbah Karto, salah satu warga paling tua, membuka cerita yang selama ini tidak pernah dibahas.
Dua puluh tahun lalu, Pak Yanto masih muda.
Dan sebelum Sri menikah dengan Harun, keduanya pernah dekat.
“Bukan cuma dekat,” bisik Mbah Karto.
“Dulu kabarnya mau menikah.”
Tapi hubungan itu batal.
Sri akhirnya memilih Harun.
Sejak saat itu, Pak Yanto sempat menghilang beberapa bulan dari kampung.
BARANG TERAKHIR YANG MEMBUKA RAHASIA
Besoknya warga kembali menggali sekitar pohon mangga.
Beberapa meter dari kotak pertama ditemukan gelang perempuan.
Dimas mengenalinya dari foto lama ibunya.
Tidak jauh dari sana ditemukan pula sebuah jam tangan pria.
Tali kulitnya sudah rusak.
Tapi bagian belakangnya masih ada ukiran huruf:
Y.
Ketika Pak Yanto akhirnya ditemukan di terminal kabupaten, ia membantah semua tuduhan.
Katanya jam itu memang miliknya.
Tapi hilang sejak dua puluh tahun lalu.
Ia mengaku tidak tahu bagaimana benda itu bisa berada di sana.
Warga tidak langsung percaya.
Apalagi seorang kakek yang dulu tinggal dekat rumah Sri mendadak teringat sesuatu.
Malam Sri menghilang, ia sempat melihat seorang pria berdiri dekat kebun.
Tubuhnya mirip Pak Yanto muda.
Kasus lama itu akhirnya dibuka kembali untuk diperiksa.
Apa yang sebenarnya terjadi malam Sri meninggal masih belum diketahui pasti.
Namun ada satu kejadian yang sulit dijelaskan.
Sejak Pak Yanto dibawa untuk dimintai keterangan, suara dari sumur berhenti.
Tidak ada lagi yang menangis.
Tidak ada lagi yang memanggil nama.
Dimas datang ke sumur untuk terakhir kalinya sebelum pulang ke Kalimantan.
Menjelang magrib, ia berdiri sendirian di depan papan penutup.
“Bu,” katanya.
“Sudah selesai?”
Sunyi.
Dimas berbalik hendak pergi.
Lalu dari bawah papan terdengar suara sangat pelan.
“Sudah, Nak.”
Dimas menangis.
Sejak malam itu sumur tetap ditutup.
Bukan karena warga takut ada hantu keluar.
Melainkan karena mereka akhirnya paham:
Selama dua puluh tahun, Sri bukan meminta seseorang mengangkat tubuhnya dari sumur.
Ia hanya menunggu ada orang yang mau menggali kebenaran.