Berita Warung

Pocong Teror Warga, Siapa Dalang di Balik Semua Ini?

October 22, 2026

Selama bertahun-tahun, kehidupan di sebuah kompleks kecil berisi sekitar dua puluh rumah di pinggiran Jakarta berjalan biasa saja.

Warganya bukan tipe yang suka bergerombol sambil bergosip. Kebanyakan berangkat pagi, pulang sore, lalu masuk rumah masing-masing.

Namun menurut Rani, salah satu penghuni yang sudah tinggal di sana sejak kecil, ada satu keluarga yang cukup terkenal bikin orang mengelus dada.

Rumah itu ditempati dua kakak beradik, Mira dan Dina, bersama tiga anak.

Mira dan Dina jarang bergaul. Pekerjaan mereka pun tidak banyak diketahui warga.

Masalahnya, beberapa kali keluarga tersebut membuat ulah.

Suatu hari Mira pernah kedapatan mengambil mangga dari pohon milik ibu Rani tanpa izin. Ketika ditegur, bukannya meminta maaf, ia malah pergi sambil membawa buah yang sudah jatuh.

Pada kesempatan lain, setelah keluarga Rani membagikan bingkisan ulang tahun satu rumah satu kotak, Mira datang meminta tambahan karena anak-anak di rumahnya berebut.

Ketika tidak diberi, jawabannya malah ketus.

Hubungan mereka dengan warga semakin buruk setelah salah satu anak Mira kedapatan keluar dari jendela rumah tetangga bernama Bu Ratna sambil membawa benda menyerupai alat congkel.

Sejak saat itu muncul dugaan keluarga Mira ada kaitannya dengan beberapa barang warga yang hilang.

Belum selesai perkara itu, anak Mira yang sudah remaja kembali membuat masalah. Saat mengendarai motor, ia menyerempet beberapa mobil yang terparkir lalu kabur.

Warga akhirnya ramai-ramai mendatangi rumah Mira.

“Keluar! Anakmu harus tanggung jawab!”

Keributan terjadi malam itu.

Anehnya, tidak lama setelah kejadian tersebut, teror mulai muncul.

POCONG MUNCUL BERGILIRAN

Awalnya seorang warga mengaku melihat pocong berdiri di depan rumah.

Malam berikutnya, orang lain kesurupan.

Kemudian rumah lainnya mengalami kejadian serupa.

Seolah-olah teror itu berpindah dari satu rumah ke rumah berikutnya.

Warga mulai ketakutan.

Yang paling gampang dicurigai tentu keluarga Mira.

Bukankah mereka baru saja dimarahi satu kompleks?

Bisik-bisik mulai terdengar.

“Jangan-jangan mereka ngirim.”

Rani sendiri awalnya tidak terlalu percaya.

Sampai suatu malam, ketika hendak tidur, ia mendengar suara sesuatu berjalan di atas genteng.

Bukan suara langkah.

Lebih seperti benda berat diseret.

Srrrttt…

Srrrttt…

Tiba-tiba terdengar bunyi keras seolah atap rumah jebol.

Rani berlari menemui ayahnya yang sedang menonton televisi.

Anehnya, ayahnya tidak mendengar apa-apa.

Rani kembali ke kamar.

Begitu pintu dibuka, tubuhnya langsung kaku.

Di atas kasur terlihat sosok terbungkus kain putih.

Pocong itu terbaring di tempat tidurnya.

Rani menjerit memanggil ayahnya.

Saat keluarganya datang, sosok tersebut sudah menghilang.

Namun pada plafon tepat di atas tempat tidur ditemukan bercak hitam seperti bekas terbakar.

Sejak malam itu, Rani berhenti menganggap cerita warga sebagai khayalan.

KELUARGA MIRA MALAH PERGI

Tak lama kemudian salah satu anak di rumah Mira jatuh sakit cukup parah.

Mira bahkan mendatangi ibu Rani untuk meminjam uang biaya pengobatan.

Meski sebenarnya takut dan kurang suka kepadanya, ibu Rani akhirnya memberikan pinjaman Rp2,5 juta.

Tiga hari kemudian sebuah mobil pikap datang.

Barang-barang dari rumah Mira diangkut.

Mereka pindah tanpa banyak bicara.

Ibu Rani sempat mengira uangnya ikut lenyap.

Namun pemilik rumah kontrakan, Pak Hamid, datang membawa amplop berisi tepat Rp2,5 juta.

Ternyata Mira menitipkan sisa uang deposit kontrakannya untuk melunasi utang tersebut.

Dari sinilah cerita sebenarnya mulai terbuka.

Pak Hamid bertanya apakah ibu Rani pernah mendengar Bu Ratna menawarkan jasa “menggandakan uang”.

Ibu Rani langsung heran.

Bu Ratna?

Perempuan pendiam yang tinggal hanya bersama anak gadisnya?

TERNYATA SALAH SASARAN

Malam itu terjadi keributan di rumah Bu Ratna.

Pak Hamid, ketua RT, dan beberapa petugas keamanan datang.

Dari pembicaraan mereka akhirnya terbongkar sesuatu yang membuat warga tercengang.

Menurut cerita yang terungkap, Bu Ratna dan anak perempuannya ternyata mendalami praktik perdukunan.

Mira dan Dina sebelumnya sedang mengalami kesulitan keuangan.

Dina kemudian tergiur ketika Bu Ratna menawarkan cara menggandakan uang.

Awalnya uang Rp5 juta disebut berhasil menjadi Rp10 juta.

Dina percaya.

Ia kemudian menyerahkan tabungan jauh lebih besar, sekitar Rp80 juta.

Namun ketika uang itu hendak “digandakan”, muncul syarat baru.

Tumbal.

Dina ketakutan dan meminta uangnya kembali.

Bu Ratna mengatakan uang tersebut sudah “diserahkan” dan tidak bisa dikembalikan begitu saja.

Karena panik, Mira dan Dina kemudian menyuruh anak yang masih kecil masuk melalui jendela rumah Bu Ratna untuk mengambil kembali uang mereka.

Itulah alasan anak tersebut dulu dipergoki keluar dari kamar Bu Ratna.

Namun sejak kejadian itu, Bu Ratna diduga takut rahasianya terbongkar.

Teror gaib pun mulai muncul.

Yang menjadi sasaran pertama justru warga yang sebelumnya mendatangi dan memarahi keluarga Mira.

Semakin banyak rumah diganggu, semakin kuat pula tuduhan bahwa Miralah pelakunya.

Bahkan Bu Ratna sendiri sempat mengaku menjadi salah satu korban teror.

Belakangan warga menduga itu hanya sandiwara agar dirinya tidak dicurigai.

Orang yang dianggap korban ternyata justru berada di balik kekacauan.

Setelah rumah Bu Ratna diperiksa, ditemukan sejumlah benda yang dikaitkan dengan ritual.

Bu Ratna dan anaknya akhirnya pergi meninggalkan kompleks.

Rumah mereka kosong.

Tetapi masalahnya belum benar-benar selesai.

Rani mengatakan, hingga beberapa waktu kemudian, dari rumah kosong tersebut masih sering terdengar suara seperti orang beraktivitas.

Kursi digeser.

Lemari seperti ditarik.

Kadang terdengar langkah kaki pada malam hari.

Padahal tidak ada seorang pun tinggal di sana.

Warga sempat meminta rumah itu “dibersihkan”.

Namun orang yang dimintai bantuan justru mengatakan ada sesuatu yang sudah telanjur menetap di dalam.

Sejak itu warga hanya punya satu cara.

Tidak mengganggu.

Tidak mendekat.

Dan kalau pulang malam, sebisa mungkin tidak menoleh ke rumah tersebut.

Ironisnya, selama berbulan-bulan warga mengira keluarga paling bermasalah adalah sumber malapetaka.

Ternyata mereka juga korban.

Pesan warung: Tetangga yang nyebelin memang gampang dicurigai. Tapi sebelum nuduh macam-macam, cek dulu kanan-kiri. Kadang yang kelihatannya paling kalem justru menyimpan “kegiatan malam” paling ramai.